Banjir Rob Ancam Kawasan Pesisir, DPRD PPU Minta Penanganan Jangka Panjang
PENAJAM (NK) — Potensi banjir rob akibat pasang air laut setinggi 2,8 meter yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi perhatian serius DPRD Penajam Paser Utara (PPU). Meski masyarakat pesisir, khususnya di Pantai Tanjung Jumlai, telah terbiasa dengan kondisi ini, DPRD menilai perlunya penanganan yang lebih sistematis dari pemerintah.
Anggota DPRD PPU, Jamaluddin, mengatakan, fenomena pasang air laut memang sudah menjadi siklus tahunan yang diketahui warga pesisir. Namun, dampak yang ditimbulkan tidak bisa dianggap remeh.
“Kalau di pesisir Tanjung, kondisi pasang air laut seperti itu sudah biasa. Masyarakat di sana tidak terlalu kaget karena sudah menjadi kebiasaan saat musim-musim tertentu,” ujar Jamaluddin, Senin (14/4/2025).
Meski begitu, ia mengakui bahwa beberapa peristiwa pasang sebelumnya sempat menggenangi jalan umum dan halaman rumah warga, dengan ketinggian air mencapai 10–12 sentimeter di atas permukaan jalan.
“Jalan yang biasa dilalui orang tertutup air. Bahkan ada rumah-rumah warga yang berada tepat di bibir pantai yang kemasukan air laut,” jelasnya.
Sejumlah warga memang sudah mengantisipasi dengan membuat tanggul-tanggul kecil di belakang rumah. Namun, menurut Jamaluddin, langkah tersebut tidak cukup ketika air pasang mencapai puncaknya.
Jamaluddin meminta agar pihak terkait tidak hanya menunggu laporan dari masyarakat, tetapi juga aktif memetakan titik rawan dan menyiapkan skema penanganan jangka panjang agar dampak banjir rob dapat diminimalisasi.
“Upaya warga itu patut diapresiasi, tetapi perlu didukung dengan langkah lebih besar dari pemerintah, seperti pembangunan tanggul permanen atau perbaikan drainase,” tegasnya. (ADV/NK)
