Ketua PMWC NU Samboja berharap Pendemi Sudah Berlalu Agar Dapat Melaksanakan Ibadah Seperti Biasa.

Samboja (NK) – Nahdlatul Ulama atau yang biasa disingkat (NU) adalah sebuah Organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Organisasi NU berdiri tanggal 31 Januari tahun 1926 dan bergerak dibidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Pendirian NU digagas oleh Kyai ternama dari Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Menggelar pertemuan di kediaman KH. Wahab Chasbullah di Surabaya.

Kehadiran NU merupakan salah satu melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya yaitu paham Ahlussunah Waljamaah.

Selain itu, NU sebagai organisasi-organisasi pribumi lain baik bersifat sosial, budaya atau keagamaan yang lahir di masa penjajah pada dasarnya merupakan perlawanan terhadap penjajah.

Pengurus Majelis Wilayah Cabang (PMWC) Nahdatul Ulama (NU) Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara saat di temui awak media di sekretariat PMWC NU kecamatan Samboja, menerangkan bahwa 80% masyarakat samboja menganut ajaran NU atau yang biasa di kenal Ahlussunah Wal Jamaah. pada jum’at (19/11/2021).

Ketua PMWC NU Kecamatan Samboja Ustadz Ahmad Subahan Ibraham biasa disapa Guru Subahan ” Berharap pendemi Covid-19 ini sudah berlalu, insyaallah pengajian bulanan yang sudah kami programkan bersama akan kami jalankan semaksimal mungkin, dengan harapan khususnya warga NU kecamatan samboja lebih memahami tentang keilmuan agar mereka bisa memperdalam ilmu dan amalan”, ujarnya.

“Ustadz Subahan berharap warga NU memperdalam Ilmu Tarekat, karena orang yang bertarekat itu pasti orang NU, akan tetapi tidak semua warga NU mengamalkan ilmu tarekat, Oleh karena itu kami berharap agar warga NU kedepannya lebih menperdalam ilmu tarikat agar Ilmu Fiqih dan Tasawuf nya lebih mantap lagi”, Ungkapnya.

Selama Pendemi Covid-19 Kegiatan keagamaan Majelis dan Pengajian bulanan terstop total.

Setelah Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mengumumkan bahwa Kukar berstatus PPKM level 2 kegiatan Majelis Pengajian bulanan dan juga Maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan dengan jumlah jamaah yang sedikit dan tetap melakukan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Pemerintah. (*/Nk-01)