Otorita IKN Dorong Warga Prasejahtera Bentuk KPIN
PENAJAM (NK) – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) telah berhasil melakukan pembinaan warga prasejahtera di wilayah deliniasi IKN, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur berupa pelatihan budidaya ikan kolam, kini pasca pelatihan mereka didorong untuk membentuk Komunitas Pengusaha Ikan Nusantara (KPIN).
Hal ini diungkapkan, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Conrita Ermanto, kepada Media Indonesia, Jumat (10/4) mengatakan, pasca pelatihan budidaya ikan air tawar dan diserahkan bantuan perlengkapan dan bibitnya, warga prasejahtera peserta pelatihan tersebut telah membentuk Komunitas Pengusaha Ikan Nusantara atau KPIN.
“KPIN dibentuk sebagai Kelompok Usaha Bersama (KUBE) berlegalitas, guna meningkatkan kesejahteraannya. Selain itu, menjadi fase transisi menuju Koperasi. Legalitas itu guna memperkuat posisi tawar dan mempermudah akses fasilitasi dari pemerintah,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, total anggota KPIN 28 orang sesuai jumlah warga yang mengikuti pelatihan, namun sementara baru ada 24 yang aktif. Mereka merupakan masyarakat prasejahtera atau Desil 1 dan 4.
“Pendekatan pengelolaan kami arahkan menggunakan model korporasi, agar memiliki unit bisnis yang mandiri dan profesional,” tukasnya.
Sebagai hasil monitoring dan pendataan pihaknya di lapangan, lanjut Conrita, untuk capaian panen dari lima desa atau kelurahan telah menyentuh angka 944 kg mendekati 1 ton. Dimana desa Sukaraja dan Kelurahan Maridan, tercatat sebagai wilayah dengan tingkat produktivitas tertinggi yang perlu dipertahankan konsistensinya.
“Hasil evaluasi kami, menunjukkan biaya pakan menyerap 67 persen, dari total biaya produksi. Kami mencoba melakukan pendampingan kembali, agar menggunakan pakan mandiri yang diolah sendiri guna menekan ketergantungan pada pakan pabrikan,” sebutnya.
Diakuinya, saat ini memang tingkat penjualan hasil panen ikan jenis lele itu baru mencapai sekitar 17 persen, maka pihaknya mengarahkan agar anggota komunitas menggunakan sistem Open Pre-Order (PO) diarahkan bagi pegawai di lingkungan Otorita IKN, sehingga hasil panen terserap secara maksimal.
“Kami juga meminta agar mereka melakukan pengolahan pasca-panen menjadi produk turunan seperti ikan marinasi, abon, atau keripik ikan, guna menjaga nilai jual saat harga ikan segar di pasar sedang fluktuatif,” pintanya.
Dikatakannya, terdapat gagasan untuk mengintegrasikan budidaya ikan dengan peternakan bebek atau ayam yang memiliki pasar sangat jelas, jika itu dijalankan tentu akan memberikan nilai tambah pendapatan bagi anggota komunitas.
“Pembinaan bagi warga prasejahtera yang kini telah masuk dalam KPIN tersebut kam kolaborasi dengan Direktorat Ketahanan Pangan Otorita IKN terkait dukungan pengetahuan teknis (transfer knowledge),” sebut Conrita.
Terpisah Ketua KPIN, Asep menyatakan, pembentukan komunitas ini harapannya pasca pelatihan peserta masih bisa melakukan kegiatan pembudidayaan ikan dengan baik, dibawah binaan Otorita IKN.
“Memang saat ini kami masih aktif melakukan budidaya. Bahkan hasil panen juga telah dipasarkan kilo 24 ribu, kalau diolah menjadi marinasi per kilogramnya dihargai Rp35 ribu,” sebutnya.
Namun bebernya, karena terpal kolam hanya ada dua, maka pihaknya agak kesulitan dalam mengembangkannya, minimal dibutuhkan tiga kolam, agar waktu panen bisa dilakukan secara cepat setiap bulan.
“Kami berharap, Otorita IKN dapat memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi oleh pembudidaya termasuk bisa memasarkan pada pegawai Otorira IKN yang berdomisili di rusun ASN,” pungkasnya. (nk1)

