Pemasangan 4.002 Jargas di PPU Program Nasional

Kasubdit Pelaksanaan dan Pengawasan Pembinaan Infrastruktur Migas, Dirjen Migas Kementerian ESDM, Ahmad Wahyu saat memberikan materi dalam sosilisasi tentang Jargas rumah tangga kepada Ketua RT dan aparatur kelurahan yang wilayahnya mendapatkan pemasangan Jargas tahap awal

Jargas Dijamin Untuk Masyarakat

PENAJAM (NK) – Pemasangan Jaringan Gas (Jargas) yang merupakan program Nasional melalui Kementerian ESDM untuk rumah tangga di Kabupaten Penajam paser Utara (PPU)  dalam waktu dekat akan segera terwujud. Sebanyak 4002 sambungan dipastikan segera dinikmati oleh masyarakat PPU di Tahun 2018 ini. Tahab awal jaringan pipa akan dimulai dari Kelurahan Penajam, kemudian kelurahan Gunung Seteleng, Nenang, Nipah-nipah dan Sungai Parit.

Demikian diungkapkan, Asisten II Bidang Pembangunan dan Kesra, Ahmad Usman, Selasa (8/5/2018) saat membuka sosialisasi yang diikuti sejumlah Ketua RT dan Kelurahan sebagai wilayah pemasangan Jargas di PPU.

Ia menjelaskan, pemasangan Jargas di Kabupaten PPU merupakan yang pertama kali dibandingkan daerah lainnya di Kaltim seperti Balikpapan, Bontang dan Samarinda sehingga sosialisasi kepada masyarakat terus dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang seputar Jargas.

Kabupaten PPU merupakan daerah pertama untuk pemasangan sambungan Jaringan gas bagi masyarakat ini, sehingga pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat dianggap penting untuk memberikan pemahaman seputar Jargas yang akan diterima,”katanya.

Sementara itu dalam sosialisasinya Kasubdit Pelaksanaan dan Pengawasan Pembinaan Infrastruktur Migas, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas, Kementerian ESDM, Ahmad Wahyu, mengatakan bahwa jika dilihat dari segi keamanan, penggunaan gas bumi melalui pipa gas tentu lebih aman. Karena dalam pemasangan pipa gas tentunya dilakukan oleh tim khusus yang tersertifikasi, terus dimonitor pemasangannya apakah sudah aman, sebelum digunakan untuk memasak.

“Bandingkan dengan tabung elpiji yang tiap kali habis kita pasang sendiri, copot-pasang, kalau salah bisa meledak,” ungkapnya.

Dia menambahkan, ketika tabung elpiji dipasang ke regulator, ada tekanan tinggi dari tabung gas, sementara gas bumi, bila pipanya bocor maka tekanannya sangat rendah.

“Elpiji kan gasnya dipadatkan, makanya kalau bocor tekanan gasnya tinggi sekali, berbeda pipa gas bumi, bocor ditutup pakai tangan bisa, bahkan tidak terasa, seperti gas dalam balon, ringan sekali. setelah ditutup kita tinggal pangil petugas untuk memperbaiki pipa yang bocor,” katanya.

Dirinya menambahkan bahwa menggunakan jaringan gas dipastikan memiliki resiko lebih renda dan  akan lebih aman dibandingkan menggunakan elpiji selama ini.

“Kalau elpiji sering kejadian itu meledak, kalau pipa gas bocor kemudian menimbulkan api, ditutup kain basah saja sudah mati apinya, karena gas bumi massa (berat) nya ringan, kalau elpiji massa gasnya berat. Makanya ketika dipasang di dapur harus ada bolong-bolong (ventilasi udara), biar gasnya tidak diam di bawah, kalau gas bumi bocor, gasnya langsung menguap.

Informasi dari Pertamina, tekanan gas pipa ini juga lebih rendah. Kalau LPG itu delapan bar, sedangkan gas pipa ini hanya dua bar. Selain itu jika terjadi kebocoran, gas yang keluar akan langsung menguap ke udara sehingga dapat menghindari risiko meledak,” jelas dia

Keuntungan yang akan didapat oleh warga lanjut dia, adalah dari sisi pembiayaan yang pastinya akan lebih hemat antara 25 hingga 30 persen dibandingkan dengan menggunakan elpiji yang selama ini digunakan. (Humas6/nav/nk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.