ADVERTORIAL - PARLEMENTARIABorneoHEADLINEKaltim

Hamas sebut salah satu program inti Pemprov Kaltim akan berdampak akibat efisiensi anggaran 2026

SAMARINDA (NK) – Dampak dari penyesuaian anggaran tahun 2026 di Kalimantan Timur (Kaltim) akan dialami oleh salah satu kelompok dalam program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim yaitu Penjaga masjid atau marbot. Pengurangan anggaran yang dilakukan pemprov berimbas pada kegiatan pemberangkatan marbot atau penjaga rumah ibadah yang selama ini rutin dijalankan pada tahun 2025 ini.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, mengungkapkan bahwa pengurangan tersebut merupakan bagian dari efisiensi menyeluruh yang harus dilakukan akibat penurunan pendapatan daerah. Menurutnya, beberapa kegiatan sosial keagamaan juga tidak terlepas dari penyesuaian.

“Misalnya pemberangkatan penjaga masjid atau pun marbot ya. Itu mungkin ada yang kurang. Ada pengurangannya yang cukup banyak lah,” ujar Hasanuddin, Selasa (25/11/2025)

Lebih jauh, Ia menjelaskan bahwa kegiatan pemberangkatan marbot, baik untuk pelatihan, pembinaan, maupun program apresiasi lainnya, membutuhkan anggaran yang cukup besar. Dalam situasi efisiensi, pos seperti ini menjadi salah satu area yang ditinjau ulang.

“Kegiatan-kegiatan seperti ini memerlukan biaya operasional yang tidak sedikit, jadi harus kita lihat lagi prioritasnya,” jelasnya.

Menurut pria yang akrab disapa Hamas itu mengatakan, meskipun ada pengurangan, pemerintah tetap berupaya mempertahankan kegiatan inti yang memberikan manfaat langsung kepada marbot. Namun ruang geraknya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.

“Kita usahakan yang penting tetap berjalan. Tapi tentu skalanya tidak bisa sama seperti sebelumnya,” ujarnya.

Selain itu, Ia juga menegaskan bahwa keputusan pemangkasan tidak diambil secara sepihak. DPRD dan TAPD menilai seluruh sektor secara komprehensif sebelum menentukan besaran efisiensi tiap program.

“Semua sektor kita bahas satu per satu. Tidak boleh asal potong tanpa melihat dampaknya,” katanya.

Pun, Hasanuddin juga menyebut bahwa pengurangan ini kemungkinan memengaruhi jumlah peserta yang diberangkatkan, frekuensi kegiatan, atau bentuk program apresiasi bagi marbot.

“Mungkin nanti jumlahnya dikurangi atau kegiatannya dipilih yang paling penting saja,” tambahnya.

Ia berharap masyarakat, terutama para marbot, dapat memahami bahwa pemangkasan ini merupakan konsekuensi dari menurunnya pendapatan daerah, bukan karena berkurangnya perhatian pemerintah terhadap sektor keagamaan.

“Kita tetap menghargai peran marbot. Mereka penting untuk menjaga rumah ibadah. Tapi kondisi anggaran memang tidak memungkinkan,” imbuhnya.

Hasanuddin menambahkan bahwa DPRD masih menunggu perhitungan final dari TAPD untuk mengetahui seberapa besar kegiatan yang bisa dipertahankan. Setelah itu barulah keputusan resmi dapat diumumkan.

“Kalau sudah final baru kita sampaikan detailnya. Sekarang masih dihitung,” ucapnya.

Ia menegaskan kembali bahwa penyesuaian anggaran ini membutuhkan kesabaran semua pihak. Dalam kondisi fiskal yang menantang, pemerintah harus memilih prioritas yang paling mendesak.

“Kita semua sedang menyesuaikan. Semoga nanti ada solusi terbaik untuk semua pihak,” pungkasnya. (ADVERTORIAL/NK)