Aptrindo Desak Pemerintah dan Pertamina Atasi Antrian Solar

Antrian kendaraan truk untuk mendapatkan solar di salah satu SPBU di Kota Balikpapan 

BALIKPAPAN (NK) – Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Balikpapan mendesak Pemerintah setempat dan Pertamina agar segera mengatasi panjangnya antrian truk-truk di sejumlah SPBU hanya untuk mendapatkan solar.

Antrian  hingga satu kilometer di SPBU kilometer 14 maupun SPBU kebun sayur. Bahkan truk-truk harus menginap menunggu hingga 30 jam di SPBU agar bisa mendapatkan solar. Kondisi itu bahkan sudah terjadi sejak satu bulan terakhir.

Bahkan, ungkapnya, panjangnya antrean di SPBU Km 14 sudah lebih satu kilometer. Kalau di SPBU Kebun Sayur, operasinya hanya malam hari karena kalau pagi sampai sore tidak maksimal. Menutupi pertokoan.

Anggota kami kalau mengantre itu 30 jam baru dapat solar. Apalagi di SPBU Km 14 itu yang antre nggak cuma truk saja, tapi juga bus yang mengantar penumpang ke Samarinda. Sehari bisa 25 bus yang antre di sana,” kata Ketua DPC Aptrindo Balikpapan Syaifuddin, (20/11/2019)

Menurutnya, jika dibiarkan berlarut-larut maka akan menghambat arus distribusi bahan pokok dan menimbulkan inflasi. Harga pun akan melonjak. Karena dia meminta agar SPBU Km 4 juga dioperasikan sementara untuk pengisian solar bersubsidi selama SPBU Km 9 masih ditutup.

 “Kalau sudah antre 30 jam, bisa saja terjadi hal-hal tak diinginkan yang dilakukan para sopir. Maka kami minta dengan sangat kepada pemerintah dan Pertamina untuk mengoptimalkan SPBU yang ada. Kuota solar juga dicukupkan. Jangan dikurangi,” ujarnya.

Dia juga meminta agar SPBU melayani hingga 24 jam. Jika tak segera digubris, Aptrindo mengancam akan melakukan mogok dan aksi damai. Sehingga distribusi barang dalam kota maupun luar kota Balikpapan akan terganggu,

Padahal, lanjutnya, yang antre itu kendaraan Balikpapan saja, mungkinlah kendaraan dari Samboja atau Penajam ikut antre di sini. Jadi, tolong ini dicarikan solusinya.

 “Aksinya ya kami tidak melakukan distribusi barang, baik dalam kota maupun ke luar Balikpapan. Aksi itu kami lakukan sampai ada solusi yang diberikan,” pintanya.

Sebelumnya, Pertamina Marketing Operation Region VI Kalimantan menyampaikan bahwa alasan ditutupnya SPBU Km 9 karena kedapatan menjual solar bersubsidi ke industri. Solar bersubsidi saat ini masih berada di harga Rp5.150 per liter dan yang nonsubsidi Rp8.150 per liter.

“SPBU Km 9 kami beri sanksi penutupan sementara karena melakukan pelanggaran. Kalau kendaraan industri ikut memakai solar bersubsidi, otomatis jatah untuk masyarakat jadi berkurang Ada beberapa SPBU di luar kota Balikpapan yang kami jatuhkan sanksi. Intinya agar kembali ke jalur regulasi yang berlaku. Mau coba diatur titik-titik SPBU supaya nggak macet atau pelayanan solar dibuka pada malam hari. Tapi kuota solar bersubsidi tidak ditambah hanya dialihkan saja ke SPBU yang lain,”pungkas  Region Manager Communication and CSR Pertamina Kalimantan, Yudi Nugraha. (ib/nk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.