Catatan Perjalanan Mengantarkan Donasi Korban Banjir Bandang Kalsel (3)

Warga Kasiau Jamu Relawan, Montirpun Tak Mau Dibayar
Wahid, pengemudi Panther dibantu Riyadi berusaha membuka roda, namun tidak berhasil karena keterbatasan alat

SELEPAS mobil Panther Pickup bisa jalan kembali, perjalanan Tim Relawan Peduli Banjir Kalsel garapan PWI Kaltim – MTB Car Rental & Travel, Bambong Elite Community, IKWI Kaltim, RPG Rescue, CV. Maju Jaya Rent Car melanjutkan perjalanan melewati Perbatasan Kaltim-Kalsel dan memasuki wilayah Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan.

Kondisi jalan mulus, namun ada beberapa lubang-lubang ditengah jalan yang sulit untuk dihindari karena kecepatan kendaraan dan beban muat kendaraan yang cukup berat, sehingga akan tidak mungkin untuk mengerem mendadak menghindari lubang.

Perjalanan melintasi Kecamatan Jaro dan Muara Uya masih lancar, namun perjalanan mulai tersendat kembali manakala sampai di Kecamatan Murung Pudak, roda depan Mobil Pickup Panther sebelah kanan menabrak lubang, sehingga menyebabkan kemudi tidak dapat dikendalikan. “Alhamdulillah kecepatan tidak terlalu tinggi, jadi masih bisa direm untuk dipinggirkan, begitu kami cek ternyata bearing roda depan kanan pecah, sehingga membuat roda kocak sulit untuk dikndalikan dan tidak bisa bergerak”, jelas Wahid sang driver yang mengemudikan Panther Pickup.

Alhasil semua Tim Relawan berhenti, dan ada dua kendaraan yang melanjutkan perjalanan kea rah Tanjung berusaha mencari bantuan mekanik dan membeli bearing ke toko spearpart kendaraan yang jaraknya lumayan jauh dari titik berhentinya kendaraan.

Cukup lama tim menunggu, Setelah lebih dua jam menunggu akhirnya ada seorang Mekanik datang menggunakan sepeda motor, disusul mobil everest Tim Relawan yang membawa spearpart bearing.

Tak Kala menunggu mekanik, warga setempat dengan ramah menghampiri Tim Relawan yang masih pada tiduran di pinggir jalan. “Jika tidak keberatan ayo istirahat ke rumah saya”, Ucap warga tersebut yang belakangan baru tahu bernama Haji Saefuddin sambil mengajak setengah memaksa.

Akhirnya begitu mekanik mulai mengerjakan perbaikan roda, kami mengikuti langkah Haji Saefuddin yang mengajak singgah di kediamannya.

DISUGUHI MAKAN SIANG
Munanto, anggota Relawan dari PWI Kaltim bersama Haji Saefuddin

Rumah H. Saefuddin petani penderes Karet berada di jalan raya Trans Kalimantan, tepatnya di Desa Kasiau Kecamatan Murung Pudak. Rumah yang sangat sederhana, terbuat dari papan kayu ini, mencerminkan kebahagiaan rumah tangga H. Saefuddin.

Karena ajakan yang begitu berharap, maka Tim Relawan dengan agak segan pelan-pelan mengikuti langkah Tuan Rumah memasuki Rumah sederhana tanpa cat itu, tampak di ruang tamu tanpa ada kursi, hanya berlapir karpet plastik yang sangat sederhana ini yang bersebelahan dengan dapur.

Kesibukan tampak Istri H. Saefuddin menyiapkan hidatangan di dapur. Tak makan waktu lama minuman Teh Es dalam muk kecil diatas nampan sudah tersaji di hadapan kami dibawa oleh anak laki-laki beliau yang baru datang dari Pesantren di Martapura. Tak lama menyusul Sop Ayam kampung yang sudah tersaji ditata di piring hadir di hadapan Tim Relawan yang memang sudah kelaparan, karena jam sudah menunjukkan pukul 13.30 wite.

Ditengah-tengah kami menikmati hidangan Haji Saefudin menuturkan bahwa pernah tinggal di Kota Samarinda, tepatnya di Sungai Kunjang saat bekerja di Perusahaan kayu PT. Marina. “Dulu yang sekarang jadi Big Mal adalah tempat kerja saya, PT Marina namanya. Di Samarinda sejak tahun 1986 dan hijrah ke Banjarmasin tahun 1996. Dan akhirnya sudah berjalan lebih tiga tahun lebih menetap di Desa Kasiau ini bertani Karet. Hari-hari sejak habis subuh kegiatan saya menderes karet, di kebun punya adik ipar”, terang Saefuddin menjelaskan kepada Tim Relawan.

Istri Saefuddin yang duduk di pintu dapur mengatakan, beberapa saat setelah terdengar adanya bencana banjir bandang di Berabai, saya meminta kepada bapaknya untuk menyediakan bawang merah dan bawang putih, pasti saudara-saudara kita dari Kaltim akan datangan menjenguk saudaranya yang tertimpa musibah. “Saya hanya meminta abahnya untuk menyediakan bawang mewah dan bawang putih, kalau yang lainnya seperti sayur-sayuran, cebai kami tanam sendiri. Ayam kami ternak sendiri. Hanya ini lah yang bisa kami lakukan, karena kami tidak bisa berbuat banyak membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah”, jelas Istri Saefuddin.

Saefuddin sendiri menuturkan merasa terenyuh. “Kami bisanya hanya memandang, mobil-mobil hilir mudik membawa bantuan, sedangkan kami yang satu provinsi tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi apa yang bisa kami lakukan ala kadarnya seperti menjamu tamu inilah bisanya kami”, ucap Saefuddin.

MONTIR TAK MAU DIBAYAR
Foto bersama Mekanik yang tak mau dibayar di depan Bengkel Rudi miliknya

Tidak sampai satu jam Tim Relawan berada di rumah Haji Saefuddin, karena perbaikan kendaraan selesai, maka Tim Relawan pun pamit dengan tuan rumah yang telah membuat kenyang.

Sesampai di kendaraan yang terparkir di pinggir jalan, Montir yang bernama rudi, sama sekali tidak mau menerima upah yang kami beri. Langsung pergi menuju motornya meninggalkan kami yang masih terheran-heran. “Jarang mekanik datang cukup jauh jaraknya membantu perbaikan kendaraan, kemudian tidak mau dibayar. Yang sering kalau dipanggil pasti memasang tarif tinggi”, ucap Kurnia salah satu anggota tim Relawan.

Setelah siap semua, tim dengan konvoi melanjutkan perjalanan, dan berusaha mencari dimana tempat Montir tadi berada. Sekitar 5 km jarak dari titik mobil mogok tadi, Tim menemukan bengkel sebelah kiri jalan, bernama Bengkel Rudi, dan benar saja sang mekanik tadi masih dibawah kolong kendaraan memperbaiki kendaraan.

Kami pun berusaha memberi haknya tadi, namun kembali di tolak, dan hanya ucapan terima kasih kami dari Tim Relawan yang bisa disampaikan. “Saya tidak bisa berbuat banyak, hanya membantu memperbaiki kerusakan kecil kendaraan saja, sementara saudara-saudara datang jauh-jauh dari Kaltim membawa bantuan untuk saudara-saudara kami yang terkena musibah banjir bandang dengan segala resiko perjalanan”, ucap Montir tersebut yang belakangan diketahui bernama Rudi.

Selepas foto bareng dengan Rudi, sang Mekanik yang dengan ikhlas membantu, sekaligus pemilik Bengkel Rudi ini, Tim Relawan pun melanjutkan perjalanan menuju Berabai, dan tiba di desa Mahang Baru Kecamatan Labuan Amas Selatan untuk singgah istirahat dan berdiskusi dengan tim relawan desa Mahang Baru yang akan membantu penyaluran bantuan tersebut ke korban banjir bandang keseesokan harinya. (bersambung) (NK-01)