Lahan Pertanian Luas, Sayang Kaltim Hanya Andalkan Hujan

Drs. H. Yusran Aspar. M.Si

PENAJAM (NK) – Luasannya lahan pertanian yang dimiliki Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), namun sayang untuk memenuhi air pertanian  Kaltim hanya mengandalkan dari curah hujan saja.

Lahan pertanian di Kaltim cukup luas,  namun hinga saat ini  masih mengandalkan curah hujan akibatnya petani panennya masih satu kali setahun, lantaran belum ada sistem irigasi tehnis, belum ada bendungan.  Ini  ironis memang,”kata Bupati PPU, H Yusran Aspar saat membuka seminar kesehatan yang digelar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) PPU, siang kemarin.

Ia mencontohkan, misalnya di Kecamatan Babulu lahan persawah seluas 20 ribu hektare, hanya satu kali panen dalam setahun. Tetapi  Alhamdulillah tahun ini petani mendapatkan keberuntungan karena adanya penambahan intensitas curah hujan sehingga petani bisa panen dua kali, tapi ketika kemarau terkadang petani tidak bisa menanam.

Menurutnya, sejumlah fakta saat ini perlu mendapat perhatian seperti,  jumlah penduduk kian bertambah, sejalan dengan itu permintaan persediaan pangan tentu akan bertambah pula. Ketersediaan  pangan dan lahan saja jika mengambil contoh di pulau Jawa pasti berkurang, padahal lahan disana rata-rata lahan potensial, beririgasi tehnis dan tingkat produktifitasnya tinggi.

Sementara itu, lanjutnya, untuk mengatasi kekeringan di lahan pertanian tersebut, sebenarnya dirinya telah mengusulkan pembangunan bendungan Lambakan sejak tahun 2000 silam,   demikian pula Bendungan Talake diusulkannya sejak 2002, ketika dirinya masih berdinas di Kabupten Paser. Namun hingga kini tidak terwujud.

“Memang timbul pertanyaan masyarakat mengapa bukan Pemkab PPU dan saya sebagai bupati PPU saat ini yang melakukan pembangunannya, jawabnya, hal itu lantaran letaknya di Kabupten Paser tentu saja menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi atau pak Gubernur,”jelas Yusran.

Diungkapkannya, dengan luas lahan 20 ribu hektare dikali 5 ton saja paling minim 100 ribu ton, kalau menggunakan pengairan tehnis hasil panen mampu mencapai 10 ton jika dikali 20 ribu Ha maka hasilnya mencapai 200 ribu ton kali Rp 4 juta harga gabah kering maka hasilnya Rp800 miliar.

Dibeberkannya, Kaltim ini pernah memiliki uang sebesar Rp15 triliun di tahun 2013 silam sedangkan  anggaran pembangunan bendung Talake hanya Rp1,7 triliun tetapi sayang pembangunan tidak dilakukan.   Kalau bendung itu terwujud, maka    petani sejahtera dan rakyat sejahtera sejumlah persoalan dapat teratasi dengan demikian petani bisa melakukan panen hingga tiga kali maka penghasilan petani mencapai Rp10 juta perbulan.

Persoalan bangsa saat ini, terangnya, tidak lepas dari persoalan kesejahteraan, sementara untuk mengatasi persoalan pangan Indonesia saat ini masih melakukan inpor beras, jagung dan kedelai, padahal Indonesia pun bisa lakukan itu.   Namun  disana ada kelalaian, banyak orang pintar namun menurutnya tidak memahami masalah ke wilayahan.

“Seperti contoh saudara-saudara kita di Kutai Barat (Kubar), kalau mereka mau ke Balikpapan lewat Samarinda, sampai ke Balikpapan menempuh waktu 13 jam, padahal bila melalui jalan  Sotek – Bongan itu cuma 60 kilometer kalau jalannya mulus dua jalur enam lajur non tonase seperti di Eropa, di Jepang di Korea, maka perjalannya jadi lancar  nyaman aman.  Paling  kita tempuh dalam waktu hanya dua jam sementara kalau jalan itu dibangun hanya membutuhkan biaya Rp1 triliun. Wacana  ini sudah saya usulkan sejak 2004 dengan membuat DED nya,”terang Yusran.

Sekarang ini,  kata Yusran,  belum ada yang bisa dibanggakan, apabila jalan rusak yang disalahkan kendaraan,  angkutan alat berat disalahkan.  Padahal  bukan salah mereka.

“Kita yang salah, karena belum siap.  Dimana saat ini kualitas pembangunan jalan provinsi di Kaltim belum menunjukkan kualitas  yang diharakan,”pungkasnya (er/nk/humas8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.