Melihat Aktifitas Kedinasan  Bupati PPU Diakhir Masa Jabatannya (Bagian 1)

Lakukan Kunker, Perpisahan, Sekaligus Sampaikan Permohonan Maaf  Kepada Masyarakat serta seluruh pegawai Kecamatan, Muspika, desa dan kelurahan

Masa jabatan kerja Bupati Penajam Paser Utara (PPU)  Yusran Aspar dalam beberapa bulan kedepan  memang akan segera berakhir. Selama empat tahun lebih menjabat sebagai kepala daerah di tanah Benuo Taka, berbagai trobosan maupun gagasan  telah sukses dan berhasil dilakukan. Tak ayal, berbagai penghargaan mulai tingkat provinsi hingga nasional pun telah diperoleh Kabupaten muda di Kaltim ini.

Catatan : Subur Priono (Staf Humas Setkab PPU)

Memang tidak diragukan lagi, selama menjabat sebagai Bupati  PPU Yusran Aspar telah mengangkat kabupaten PPU mampu sejajar dengan Kabupaten lainnya di Kalimantan Timur (Kaltim). Bahkan beberapa trobisan dan ide cemerlang suami Hj. Rustini Yusran Tersebut, dalam beberapa bidang pembangunan PPU mampu lebih maju dari kabupaten/Kota  di Kaltim yang usianya terpaut jauh. Namun dibalik semua itu persoalan daerah pastilah tentu ada yang belum tuntas di Kabupaten muda ini.

Selama empat tahun menjabat sebagai Bupati PPU kami ingin mengevaluasi kembali berkaitan dengan kinerja saya, salah satunya di Kecamatan Waru ini. Tujuannya agar apa yang telah kami lakukan hingga saat kini dan  kedepan diharapkan dapat terus berkesinambungan untuk kemajuan PPU,“kata Yusran disela -sela kunjungannya di Kecamatan Waru, Jumat, (19/1) beberapa hari lalu.

Dirinya mengakui, selama menjabat kepala daerah pastilah masih banyak pekerjaan rumah bagi daerah yang belum terselesaikan. Karena lanjut dia, pelaksanaan pembangunan daerah memang tidak ada kata selesai, namun selalu berkelanjutan dari satu kepala daerah yang akan dilanjutkan oleh kepala daerah berikutnya.

“Paling tidak pertemuan dan kegiatan semacam ini akan saya jadikan sebagai momentum permohonan maaf kami kepada seluruh masyarakat PPU jika selama menjabat sebagai bupati ada yang merasa tersakiti ataupun kami belum memenuhi harapan dan  keinginan masyarakat. Momentum ini sengaja saya ambil waktunya diawal tahun 2018 sebelum masa jabatan saya berakhir beberapa bulan kedepan,” kata Yusran Aspar.

Dalam kesempatan itu Yusran Aspar juga menjelaskan bahwa berbagai persepsi dan kritikan tentang pembangunan daerah kerap muncul dalam masyarakat itu wajar dan sah-sah saja. Salah satu cuntoh kata dia yang terjadi belum lama ini, terkait pinjaman daerah kepada PT. SMI beberapa waktu lalu.

Namun mengapa pinjaman tersebut harus dilakukan lanjut dia. Saat itu kondisi keuangan daerah sangat memperihatinkan. Anggaran yang sebelumnya direncanakan sebesar 1,3 Triliun pada kenyataannya daerah mengalami defisit secara besar-besaran yang sebagian besar juga melanda wilayah di Kaltim akibat  dana bagi hasil dari pusat tidak dapat diterima.

“Saat itu kita ibarat keluarga dengan penghasilan 300 ribu rupiah yang harus memenuhi kebutuhan 10 orang anak. Pastilah jalan satu-satunya yang harus kita tempuh adalah dengan melakukan pinjaman kepada pihak lain,” terangnya.

Menurutnya, pinjaman tersebut sudah tepat dan bukan semata-mata hanya meninggalkan utang daerah sebelum masa jabatan dirinya berakhir. Telapi semua itu memang harus dilakukan untuk penyelesaian sejumlah pembangunan di daerah ini. PT. SMI pun lanjutnya, tidak akan memberikan pinjaman jika progres pembangunan yang akan dibiayai tidak jelas. Sejumlah daerah pun terbukti gagal memperoleh pinjaman yang sama seperti PPU. Bahkan di Kaltim PPU merupakan satu-satunya daerah yang telah berhasil memperoleh persetujuan pinjaman resmi dari pemerintah pusat tersebut.

“ Jika pinjaman kepada PT. SMI tidak dilakukan langkah lain lagi pastilah harus ditempuh, salah satu yang harus dilakukan adalah melalui rasionalisasi anggaran salah satunya dengan melalukan penghapusan total  tunjangan bagi pegawai, pengurangan THL ataupun penghapusan anggaran seluruh perjalanan dinas dan sebagainya, pastilah pegawai kita kasihan dan pastinya keberatan,” ujarnya.

Sementara itu lanjut dia, sejumlah pembangunan memang harus diselesaikan dan dipandang sangat penting bagi kemajuan daerah PPU itu sendiri.

“Salah satu contoh adalah pembangunan jalan Arahman  menuju pelabuhan Benuo Taka milik pemkab PPU jika tidak diselesaikan pengerjaannya maka sangat disayangkan karena akan menyulitkan keluar masuk barang menuju pelabuhan yang merupakan sumber bagi PAD bagi daerah ini. Kemudian jalan pendekat menuju pulau balang, sejumlah jalan di kelurahan gersik, jalan kopi-kopi dan sejumlah pembangunan penting lainnya memang harus dikerjakan,” bebernya.

Ia menambahkan, pinjaman kepada PT. SMI merupakan pilihan cerdas. Karena jika ingin hasil maksimal bahwa pembangunan sesungguhnya tidak dapat dicicil pengerjaannya. Namun pinjamanlah yang harus dicicil pembayarannya.

“Pinjaman kepada PT. SMI ini ditanda tangani oleh Mentri Dalam Negeri Tcahyo Kumolo dan disetujui langsung oleh Presiden Joko Widodo yang telah  melalui sejumlah tahapan panjang, sehingga tidak ada yang salah, “ujarnya.

Selain itu tambahnya, pembangunan sebaiknya juga dilaksanakan melalui perancanaan yang matang. Dengan kata lain, pembangunan yang akan dikerjakan daharapkan dapat dilaksanakan sekali untuk seumur hidup dengan kata lain jangan tanggung-tanggung dalam membangun.

“Salah satu contoh, apa jadinya jika kantor bupati PPU dulu dikerjakan tidak melalui perencanaan yang baik. Misalkan menggunakan atap sirap dengan alasan sebagai ciri khas daerah itu bisa saja dan sebagainya. Namun itu tidak terjadi, karena saat itu saya telah merencanakan dengan sebaik mungkin dan insya allah kantor bupati PPU dapat digunakan seumur hidup,” terangnya.(Bersambung…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.